NADIKABAR.COM — Teknologi pemetaan tiga dimensi (3D) untuk tindakan ablasi jantung kini tersedia di Bali. Teknologi tersebut membantu dokter memetakan kondisi jantung pasien secara lebih detail dalam menangani gangguan irama jantung atau aritmia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Aritmia, I Made Putra Swi tim redaksi, menjabarkan setiap denyut jantung diatur oleh 'sistem listrik' yang seharusnya bekerja secara teratur. Namun pada sebagian orang, sistem listrik tersebut mengalami gangguan sehingga menyebabkan irama jantung menjadi tidak stabil.

Menurutnya, ablasi merupakan salah satu tindakan untuk mengatasi gangguan tersebut. Prosedur ini dilakukan dengan mencari sumber gangguan pada sistem listrik jantung, kemudian menangani bagian yang menjadi penyebab gangguan irama jantung.

"Tindakan ablasi adalah bagaimana kita memperbaiki kabel listrik yang bermasalah itu. Mungkin bisa dianalogikan seperti orang servis elektronik. Dicari komponen mana yang bermasalah, nanti disolder atau diganti di bagian itu," ujarnya, Sabtu (29/8/2026).

Sebelum teknologi pemetaan 3D tersedia, Putra menjelaskan tindakan ablasi konvensional mengandalkan sinyal listrik dari jantung untuk menemukan lokasi gangguan. Dengan teknologi 3D, dokter kini dapat melihat gambaran ruang jantung secara lebih detail untuk menentukan lokasi gangguan dan bagian yang perlu dilakukan ablasi.

Teknologi tersebut membantu dokter menentukan bagian jantung yang perlu dilakukan ablasi dan bagian yang tidak perlu ditangani.

"Kalau dengan 3D ini bisa diibaratkan kayak pakai Google Maps, pakai GPS. Jadi sama tujuannya membawa kita ke tujuannya nyari di mana titik korsletnya, tetapi tentu saja jauh lebih praktis, lebih cepat, dan mungkin lebih aman, nggak pakai tersesat-tersesat banyak gitu," jelasnya.

Penggunaan teknologi tersebut juga berpotensi mempersingkat waktu tindakan. Namun, durasi ablasi tetap bergantung pada kondisi dan tingkat kompleksitas pasien. Secara umum, tindakan berlangsung sekitar satu hingga tiga jam.

Putra menyebut kebutuhan layanan ablasi di Bali cukup tinggi. Saat masih bekerja di salah satu rumah sakit pemerintah, ia dapat menangani sekitar 120 kasus ablasi dalam setahun.

Namun, tingginya kebutuhan tersebut belum sepenuhnya dapat terpenuhi karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Saat ini, baru dirinya yang melakukan tindakan tersebut dan nantinya akan ditambah satu dokter.

Bahkan, pada awal 2026, antrean tindakan ablasi di salah satu rumah sakit pemerintah di Bali mencapai sekitar empat hingga enam bulan.

"Di awal tahun antrean di rumah sakit pemerintah untuk tindakan yang memerlukan ablasi itu sekitar 4 sampai 6 bulan. Karena keterbatasan lebih ke orangnya sih yang mengerjakan, tapi jumlah pasiennya cukup banyak," imbuhnya.

Sementara itu, Hospital Director Siloam Hospitals Bali, Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, mengatakan kehadiran teknologi pemetaan 3D di Siloam Hospitals Bali diharapkan turut memperluas akses layanan jantung bagi masyarakat, termasuk pasien dari wilayah Indonesia Timur.

Menurutnya, pasien dari kawasan Indonesia Timur memiliki akses yang lebih dekat apabila dirujuk ke Bali dibandingkan harus mendapatkan layanan serupa di Jakarta, Surabaya, maupun luar negeri.

"Kalau dari Indonesia Timur ke Bali lebih dekat daripada harus ke Jakarta, Surabaya, apalagi ke luar negeri. Jadi tujuannya memang kembali untuk meningkatkan accessible atau akses masyarakat untuk mendapatkan layanan yang lebih komprehensif untuk jantung," katanya.

Namun, layanan ablasi dengan teknologi 3D tersebut membutuhkan biaya yang relatif tinggi sejalan dengan alat yang masih sedikit. Ia menyebut biaya tindakan ablasi berada pada kisaran Rp 190 juta hingga Rp 200 juta.