Sedangkan pada tingkat model AI, model sumber terbuka (open source) buatan China, menurut Dowson, menunjukkan pengalaman penggunaan yang sangat baik serta efisiensi biaya yang tinggi dalam berbagai skenario penggunaan dengan frekuensi tinggi, seperti pekerjaan kantor, penelitian dan pembuatan konten.

Strategi ketiga yaitu Tencent mempercepat ekspansi internasional berbagai produk agen AI, termasuk CodeBuddy, WorkBuddy, Tencent Design, ADP, Magic AI, Agent Runtime, dan produk lainnya.

"Baik karyawan perusahaan China yang ditugaskan ke luar negeri maupun tim lokal pelanggan internasional dapat bekerja sama melalui satu ruang kerja AI yang terpadu dan kami terus membantu berbagai perusahaan 'platform' luar negeri membangun ekosistem 'superapp' lokal," kata Dowson.

Sedangkan Direktur Teknologi Informasi XlSmart Yessie D Yosetya dalam sesi pleno mengungkapkan kerja sama dengan Tencent memudahkan "merger" sistem yang dimiliki dua perusahaan.

"Dengan bantuan Tencent, kami mampu menyelesaikan proses tersebut dalam waktu hanya dalam waktu 4,5 bulan, sesuai rencana modernisasi. Lebih dari 60 aplikasi telah dimodernisasi dan dipindahkan ke 'Tencent Cloud'," kata Yessie.

Ia juga menyebut lebih dari 1.100 API, lebih dari 1.200 layanan mikro serta basis data sebesar 15 terabita dipindahkan ke "Tencent Cloud" dalam waktu yang sangat singkat.

"Menurut saya, kekuatan terbesar yang dibawa Tencent adalah investasi mereka dalam mengembangkan berbagai perangkat yang memungkinkan kami melakukan migrasi dengan cepat," ungkap Yessie.

Yessie menyebut, Tencent dinilai gigih dalam mencari solusi dan menyelesaikan masalah dalam proses migrasi.

"Karena setelah merger, memang kita harus kita harus mengevaluasi ulang seluruh infrastruktur karena sebetulnya dari kacamata pengalaman pengguna, mereka tidak perlu tahu seperti apa dapurnya, yang penting dari sisi pengguna, secara aplikasi, mereka lebih mudah, lebih smooth, lebih seamless," tambah Yessie.