"Khususnya di Indonesia, kami memiliki banyak pelanggan penting yang sudah menggunakan layanan 'cloud' kami, sistem 'big data' kami, serta berbagai jenis teknologi lainnya. Karena itu, kami telah mendengar adanya minat yang sangat besar terhadap penerapan teknologi AI dari Tencent," jelas Dowson.
Ia menyebut Tencent akan bekerja sama dengan para mitra untuk menghadirkan teknologidengan memanfaatkan sumber daya komputasi yang sudah dimiliki banyak mitra serta berupaya menjembatani kesenjangan antara kapasitas komputasi dan aplikasi yang menciptakan nilai nyata bagi pengguna.
"Ada pula model-model lokal yang perlu kami integrasikan ke dalam 'WorkBuddy' agar kami dapat menyesuaikan produk tersebut dengan ekosistem lokal dan berbagai perangkat yang populer di pasar tertentu. Dalam satu tahun mendatang, kami akan terus memperluas jangkauan infrastruktur kami di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika," ungkap Dowson.
Sedangkan sepanjang 2025 lalu, Tencent sudah menambah dan memperluas kapasitas di Frankfurt, Osaka, Riyadh, Malaysia, Meksiko, dan Thailand. Di Indonesia sendiri Tencent sudah memiliki tiga "data center".
"Namun, kapasitas saja tidak cukup, seiring meningkatnya kebutuhan komputasi, jaringan, memori, dan penyimpanan, kami juga harus memastikan bahwa seluruh kebutuhan tersebut tetap layak secara ekonomi karena itu, kami terus mengoptimalkan arsitektur perangkat keras dan perangkat lunak untuk menyediakan komputasi serta inferensi yang lebih hemat biaya," jelas Dowson.
Ia menegaskan Tencent memahami para pelanggan mengutamakan kualitas keamanan dan tidak ingin data sensitifnya digunakan oleh penyedia layanan.