Ia kemudian menjelaskan pada 2 September 2026, Sarwendah disebut menghubungi Tengku Zanzabella melalui sambungan telepon dan menanyakan kemungkinan mempertemukan Artos. Sehari kemudian, Artos datang ke rumah Tengku Zanzabella. Dalam kesempatan itu, menurut Ranto, kliennya menanyakan kesediaan Artos untuk bertemu dengan Sarwendah.
Pertemuan tersebut akhirnya berlangsung pada 6 September 2026 dengan dihadiri Sarwendah, Artos, serta seorang pengacara berinisial yang dalam transkrip disebut GIE.
Ranto menegaskan, Tengku Zanzabella hanya memfasilitasi pertemuan tersebut dan tidak menerima rekaman video call yang kini menjadi perbincangan publik.
"Klien kami tidak pernah menerima, tidak pernah menguasai, dan tidak pernah melihat rekaman video tersebut," tegas Ranto konfrensi pers di Tangerang, kemarin.
Ia menyebut rekaman tersebut justru diterima Sarwendah langsung dari Artos saat pertemuan berlangsung. Ranto juga menyatakan Tengku Zanzabella tidak pernah menyiapkan ataupun menyebarkan rekaman tersebut.
Selain membantah keterlibatan dalam penyebaran video, Ranto turut menanggapi tudingan mengenai dugaan pengaturan kamera CCTV di rumah Tengku Zanzabella untuk merekam pertemuan tersebut.
Menurutnya, keberadaan CCTV di lokasi merupakan hal wajar dan tidak membuktikan adanya skenario untuk menjebak pihak tertentu. Komunikasi antara Tengku Zanzabella dan salah satu staf terkait CCTV disebut hanya bertujuan memastikan ketersediaan air minum serta kebutuhan di meja pertemuan. Ia membantah tudingan kamera sengaja diarahkan untuk merancang jebakan.