Kekhawatiran publik itu berkembang dengan cepat. Dalam jajak pendapat Public First untuk Politico awal bulan ini, sekitar separuh responden di enam negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Spanyol, Jerman, dan Inggris, mendukung penghentian sementara pengembangan AI lebih lanjut untuk mengurangi risiko teknologi baru tersebut pada akhirnya mengancam keberlangsungan umat manusia.

Jajak pendapat terpisah oleh NadiKabar/SSRS menemukan bahwa hampir sembilan dari 10 warga Amerika lebih khawatir daripada bersemangat dengan kemungkinan AI suatu hari melampaui kecerdasan manusia.

Kekhawatiran tersebut bahkan sudah sampai ke Kongres AS. Pekan lalu, Senator independen Vermont Bernie Sanders turut mengajukan rancangan undang-undang untuk "secara permanen melarang pengembangan artificial superintelligence" yang tidak dapat dikendalikan manusia.

Rancangan undang-undang itu juga menyerukan penghentian sementara pengembangan AI tingkat lanjut hingga tersedia sistem pengujian dan pengawasan oleh pemerintah federal.

Namun, istilah baru dari Trump bisa saja menguntungkan perusahaan-perusahaan besar AI di AS, yang berkepentingan menonjolkan seberapa canggih teknologi mereka. Sistem-sistem tersebut sudah mengungguli manusia dalam banyak tugas khusus dan hingga belum lama ini berada jauh di depan Cina.

Namun, Anthropic, perusahaan di bali kmodel Claude, serta OpenAI, pencipta ChatGPT, sama-sama menunda rencana penawaran saham perdana atau IPO. Sejumlah pengamat pasar mengaitkan penundaan itu dengan sejumlah insiden baru-baru ini ketika model AI berhasil membobol sistem komputer atau menjalankan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan.

Meski begitu, laboratorium-laboratorium AI di AS mungkin tetap menyambut branding yang memperkuat citra bahwa mereka masih memimpin persaingan AI itu.

"Laboratorium-laboratorium [AS] punya kepentingan besar untuk menyebutnya super, hyper, superior, atau istilah lain semacam itu karena istilah-istilah tersebut membuat kemampuan mereka terdengar lebih hebat. Pada dasarnya, ini soal pemasaran," kata Domingos, penulis buku "The Master Algorithm" yang terbit pada 2015.

Menurut riset Goldman Sachs, pengeluaran global untuk AI diperkirakan akan melampaui $1 triliun (€880 miliar).