Model AI saat ini terus berkembang dan sudah mampu menjalankan banyak tugas secara mandiri. Namun, tahap berikutnya yang banyak dibicarakan laboratorium AI adalah sistem AI yang mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya sendiri. Konsep ini disebut recursive self-improvement atau RSI.

Dalam upaya menuju tahap tersebut, Elon Musk memprediksi pembelajaran AI dapat diotomatisasi, dengan keterlibatan manusia yang terbatas, pada akhir tahun ini atau pada 2027. OpenAI memperkirakan hal itu mungkin membutuhkan waktu satu tahun lebih lama. Namun, bahkan pada tahap tersebut, sistem AI masih belum sepenuhnya bersifat rekursif.

Jrgen Schmidhuber, ilmuwan komputer Jerman yang berbasis di Swiss, menulis dalam sebuah unggahan blog awal bulan ini bahwa "RSI penuh tidak hanya membutuhkan perangkat lunak [AI] yang mampu meningkatkan kemampuannya sendiri, tetapi juga perangkat keras di dunia nyata yang juga dapat memperbaiki atau meningkatkan dirinya sendiri."

Dengan kata lain, untuk mencapai superintelligence atau RSI, perusahaan teknologi harus mampu memproduksi cip, robot humanoid, bahkan membangun atau mengganti seluruh fasilitas produksi tanpa campur tangan manusia.

Meski AI sudah membantu mempercepat perancangan cip, teknologi tersebut belum mampu mengoperasikan pabrik semikonduktor sendirian. Mesin yang dapat meningkatkan kemampuannya sendiri tanpa campur tangan manusia kemungkinan masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terwujud.

Di luar perkembangan ilmu pembelajaran mesin, politik kemungkinan akan berperan lebih besar dalam menentukan apakah istilah Super Intelligence akan bertahan. Meski Trump mengklaim Presiden China Xi Jinping menyukai nama tersebut, sejauh ini Cina tetap menggunakan istilah AI dan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti perubahan nama itu.

Dalam sebuah pertemuan teknologi pada Selasa (29/09) bersama para pemimpin utama industri, Trump menandatangani perintah eksekutif yang menginstruksikan badan dan lembaga pemerintah AS untuk mulai menggunakan istilah SI. Meski sejumlah pemimpin Big Tech telah mengadopsinya, para pakar menilai istilah baru tersebut kemungkinan sulit menggantikan istilah AI yang sudah digunakan secara luas.

"Kalau melihat orientasi politik sebagian besar orang di bidang [AI], mereka justru lebih mungkin bereaksi sebaliknya, yaitu: 'Persetan dengan Anda. Kami justru akan semakin sering menyebutnya artificial intelligence'," kata Domingos.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris