Sejak perang melawan Amerika Serikat (AS) berkecamuk di Timur Tengah pada 28 Februari lalu, Iran berupaya membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur perairan strategis bagi pasokan minyak dan gas global. Sebelum perang pecah, jalur perairan vital itu biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan energi global.
Sebagai tanggapan, AS memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mengawal kapal-kapal tanker yang melintasi selat tersebut.
Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, menyatakan bulan lalu bahwa pasukan mereka telah membantu negara-negara Teluk mengekspor 1,5 miliar barel minyak melalui Selat Hormuz sejak musim panas.