Kendati demikian, mayoritas anggota dewan dari Partai Republik menolak usulan dari rekan mereka, Will Hickman, yang sempat menyarankan penghapusan kata "brutal". Dewan juga memilih tidak menghidupkan kembali materi pengajaran tentang kontribusi historis ilmuwan Muslim di bidang aljabar dan astronomi yang sebelumnya telah dihapus.
Pengesahan ini menyisakan luka mendalam bagi kalangan siswa Muslim di Texas yang sempat memberikan kesaksian di hadapan dewan.
"Saya merasa diserang, seolah-olah agama saya tidak termasuk di sini. Saya seharusnya tidak harus membela agama saya di tengah kelas sejarah hanya karena satu kalimat yang ditulis seseorang di dewan ini," ujar Habiba Quresh (15), seorang pelajar Muslim, seperti dikutip dari AP News.
Reaksi keras juga dilayangkan Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations/CAIR). Lewat perwakilannya di Texas, CAIR menyebut dewan telah merusak fungsi ruang kelas.
"Dewan telah mengubah ruang kelas kami menjadi tempat di mana prasangka diajarkan sebagai fakta, dan seluruh komunitas ditulis ulang dari sejarah mereka sendiri," tegas CAIR dalam pernyataan resminya di platform X.
Anggota parlemen Muslim di gedung negara bagian Texas, Salman Bhojani, turut mengecam revisi ini. "Sejarah selektif bukanlah pendidikan. Siswa Texas berhak mendapatkan sejarah yang akurat, lengkap, dan adil," tulis Bhojani.
Selain menyasar narasi Islam, kurikulum baru ini menggeser fokus pengajaran dengan mewajibkan pembacaan Alkitab, menyoroti atribut positif Kekristenan, serta menghubungkan prinsip-prinsip Alkitab dengan dokumen bersejarah seperti Deklarasi Kemerdekaan dan pidato 'I Have a Dream' milik Martin Luther King Jr.
Namun, sejumlah pengamat dan anggota dewan dari Partai Demokrat menyoroti bahwa materi baru ini terkesan mengabaikan fakta sejarah bagaimana Alkitab di masa lalu sempat digunakan oleh sebagian warga kulit putih Amerika untuk membenarkan perbudakan warga kulit hitam.