NADIKABAR.COM — Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, untuk menaikkan suku bunga acuan mendorong penguatan dolar AS dan peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah Paman Sam. Kondisi ini diramal akan terus menekan harga emas dunia (XAUUSD).
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, melihat tekanan terdapat harga emas dunia ini sudah terlihat pada perdagangan hari Kamis (17/9). Di mana nilai logam mulia ini pada timeframe Daily masih menunjukkan tren pelemahan dan berpotensi melanjutkan penurunan harga menuju area support US$ 4.235 - 4.186 per troy ons atau Rp 2,41 - 2,38 juta per gram.
Menurutnya selama harga emas belum menembus resistance di level US$ 4.318 per troy ons atau Rp 2,46 juta per gram, tren penurunan berpotensi terus berlanjut. Sebab level tersebut dinilai menjadi area penting yang perlu diperhatikan karena keberhasilan harga menembus resistance dapat mengubah struktur pergerakan logam mulia.
"Sebaliknya, apabila XAUUSD tetap tertahan di bawah US$ 4.318 per troy ons, tekanan jual masih berpeluang mendominasi," kata Geraldo dalam keterangan resminya, Kamis (17/9/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan pergerakan harga emas saat ini juga masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan moneter AS. Dengan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) dan memberikan sinyal peluang kenaikan lanjutan masih terbuka pada tahun ini.
"Kebijakan tersebut menjadi sentimen yang perlu diperhatikan karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap emas," ujarnya.