NADIKABAR.COM — Tiga wirausaha perempuan Indonesia berhasil masuk menjadi finalis ajang kompetisi kewirausahaan sosial tingkat dunia, Unlock Her Future Prize 2026, yang diselenggarakan oleh jaringan pusat perbelanjaan barang mewah global, The Bicester Collection.

"Kedua belas finalis ini merupakan inspirasi bagi generasi berikutnya. Mereka masing-masing menciptakan dampak yang luar biasa bagi perempuan, anak-anak, dan generasi mendatang di komunitas mereka. Hal ini sejalan dengan misi kami di The Bicester Collection, yang memiliki 12 destinasi belanja dengan tujuan menjadikan kehidupan orang lain lebih baik," kata Chief Culture Officer The Bicester Collection, Chantal Khoueiry, dalam konferensi pers di Suzhou, Provinsi Jiangsu, Kamis (22/10/2026).

The Bicester Collection adalah perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang ritel mewah dan pariwisata belanja. Didirikan pada 1995, perusahaan ini mengelola 12 destinasi wisata belanja mewah terbuka (shopping villages) di London, Dublin, Paris, Brussels, Munich, Frankfurt, Milan, Madrid, Barcelona, Shanghai, Suzhou, dan New York yang dikunjungi lebih dari 50 juta orang setiap tahunnya.

Selain menyediakan pengalaman berbelanja, kuliner, dan hiburan, perusahaan ini juga menjalankan program filantropi. Salah satu inisiatif utamanya adalah Unlock Her Future Prize yang diluncurkan pada 2022 sebagai kompetisi tahunan bagi perempuan wirausaha sosial yang mengembangkan solusi berkelanjutan sesuai Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

Ketiga finalis dari Indonesia yang berhasil masuk dari sekitar 1.500 pendaftar pada tahun ini adalah Azalea Ayuningtyas melalui "Birufinery" yang mengolah rumput laut menjadi biostimulan untuk pertanian; Celia Siura melalui "Bumbi" yang memproduksi popok dan pembalut kain; serta Jihan Alfiyyah melalui "Her lens" yang memanfaatkan AI untuk membantu bidan melakukan pemeriksaan awal kanker serviks bagi perempuan di pedesaan.

"Melalui penelitian yang kami lakukan, kami menemukan bahwa rumput laut dapat diolah menjadi biostimulan pertanian. Dengan demikian, rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat pesisir Indonesia dapat dimanfaatkan untuk membantu para petani di dalam negeri," kata CEO Birufinery, Azalea Ayuningtyas.

Birufinery adalah perusahaan rintisan (startup) berbasis di Flores dan Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang didirikan pada 2024. Perusahaan ini bergerak di bidang bioteknologi pertanian dengan fokus pada solusi biologi inovatif untuk meningkatkan produktivitas hasil panen.