"Biostimulan itu diibaratkan seperti vitamin, sedangkan pupuk adalah makanannya. Jadi, jika anak sedang susah makan, kita berikan vitamin terlebih dahulu agar nafsu makan meningkat dan nutrisinya dapat dicerna dengan baik. Kira-kira seperti itulah fungsi biostimulan," ungkap Azalea dalam wawancara khusus dengan ANTARA Beijing.
Sementara itu, Pendiri dan CEO Bumbi, Celia Siura, menjelaskan bahwa Bumbi berupaya mengatasi salah satu masalah lingkungan terbesar di dunia, yaitu sampah plastik dari popok dan pembalut sekali pakai. Saat ini, ada sekitar 14 juta bayi di Indonesia yang membutuhkan popok dan 74 juta perempuan yang membutuhkan pembalut.
"Kami ingin kembali ke kebiasaan masa lalu yang menjadi bagian dari budaya kita, yaitu menggunakan popok kain. Namun, kami merancangnya dengan desain yang menarik dan bahan yang lembut agar masyarakat bersedia beralih," kata Celia.
Ia menambahkan bahwa Bumbi juga menyediakan solusi teknologi penunjang seperti mesin cuci portabel untuk menghemat waktu dan biaya pengguna.
"Yang tidak kalah penting, produk kami diproduksi langsung oleh perempuan lokal dan penyandang disabilitas, bukan di pabrik skala besar. Kami menyadari bahwa keluarga berpenghasilan rendah kerap menjadi kelompok yang membuang popok sekali pakai ke aliran sungai," tegas Celia.
Finalis ketiga asal Indonesia adalah CEO Her Lens, Jihan Alfiyyah. Perusahaan rintisan ini didirikan bersama tim mahasiswa lintas disiplin dari Universitas Indonesia (UI) yang prihatin atas tingginya angka kematian akibat kanker serviksβpenyebab kematian akibat kanker tertinggi kedua pada perempuan di Indonesia.
"Kami menemukan masih banyak kesenjangan dalam akses pemeriksaan kanker serviks bagi perempuan di Indonesia. Oleh karena itu, kami mengembangkan perangkat portabel pemeriksaan kanker serviks berbasis AI yang dapat digunakan oleh dokter umum dan bidan agar pemeriksaan menjadi lebih terjangkau, mudah diakses, dan merata," jelas Jihan.