NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi merangkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong pelaksanaan program bahan bakar minyak (BBM) alternatif berupa campuran etanol 50 persen atau E50.

Bahlil ingin program E50 bisa bisa segera berjalan agar Indonesia dapat terbebas dari ketergantungan impor BBM Pertalite dan Pertamax dalam lima tahun ke depan.

"Bagaimana agar lima tahun ke depan kita tidak lagi impor BBM Pertalite (dan) Pertamax caranya adalah kita pertahankan produksi yang ada sekarang, bahkan kita tingkatkan dengan kita mendorong program E50," ujar Bahlil dalam acara Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Mahan - South yang disiarkan secara langsung melalui YouTube Kementerian ESDM, Kamis (22/10) kemarin.

Ia menjelaskan implementasi E50 akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari campuran E10, E20, hingga akhirnya mencapai target E50.

Adapun bahan baku utama untuk campuran etanol tersebut akan mengandalkan komoditas pertanian lokal seperti singkong, jagung, dan tebu.