NADIKABAR.COM — TikTok dan Agile Advertising mendorong pelaku usaha serta penjual (seller) e-commerce untuk mengandalkan strategi berbasis data guna mengoptimalkan belanja iklan dan menghadapi periode puncak transaksi daring pada kuartal IV (Q4) 2026.

Untuk itu, seminar "TikTok × Agile Advertising: It's A Match" digelar untuk mempertemukan seller, pemilik merek, dan pelaku bisnis e-commerce dengan praktisi untuk membahas strategi periklanan berbasis data menjelang periode belanja Q4.

"Mayoritas brand yang mengalami kendala pemasaran sebenarnya bukan kekurangan jangkauan atau reach. Iklan mereka sampai ke audiens, tetapi bukan ke orang yang tepat," kata Managing Director Agile Advertising, Ryan Sidharta dalam keterangan tertulis, Senin.

"Dinamika pasar dan perilaku konsumen bergerak sangat cepat, sehingga kecocokan antara produk, audiens, dan pesan iklan harus terus ditemukan dan disesuaikan kembali," ujar Ryan Sidharta.

Ia menambahkan, pendekatan tersebut menempatkan kemampuan beradaptasi sebagai bagian penting dalam strategi pemasaran digital.

Dalam persaingan e-commerce yang semakin dinamis, peningkatan jumlah kunjungan maupun pesanan belum tentu berbanding lurus dengan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas apabila tidak diikuti dengan optimalisasi konversi serta nilai transaksi.

Karena itu, strategi periklanan perlu memperhitungkan lebih jauh hubungan antara alokasi anggaran, karakteristik audiens, performa toko, dan benchmark masing-masing industri.