Sebelumnya, ketika pasokan air hujan berkurang pada musim kemarau, warga memanfaatkan sungai sebagai sumber alternatif untuk kolam mereka.
Namun, jarak antara sumber air dan kolam membuat pembudidaya memerlukan sarana khusus untuk membawa air hingga ke lokasi budidaya.
Anggota TEP Universitas Brawijaya Gilang Nur mengatakan solusi tersebut dipilih setelah tim berdiskusi dengan sejumlah kelompok pembudidaya dan menemukan ketersediaan air sebagai kendala utama.
βKemarin kami sempat berdiskusi dengan beberapa Pokdakan, dan memang kendala utamanya ada di masalah air. Maka dari itu, kami menghadirkan pompa air yang dilengkapi selang sekitar 300 sampai 400 meter,β ujar Gilang.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu intervensi lapangan TEP Universitas Brawijaya di Kawasan Transmigrasi Klamono-Segun setelah mengidentifikasi kebutuhan masyarakat setempat.