Program ini dikembangkan untuk menjawab persoalan energi rumah tangga sekaligus memanfaatkan potensi peternakan di Margorukun. Sebagian warga memelihara sapi dengan pola ternak lepas, sementara kebutuhan memasak masih bergantung pada minyak tanah yang pasokannya kerap terbatas atau LPG nonsubsidi yang harganya relatif mahal.
Ketua TEP 08 ITS Arief Abdurrakhman menjelaskan biodigester berkapasitas 12 meter kubik (12 m³) yang dibangun tim mampu mengolah kotoran sekitar 10 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan memasak tiga rumah tangga.
Pemanfaatan biogas tersebut berpotensi menghemat biaya energi sekitar Rp50 ribu per bulan bagi warga. Danun, salah satu penerima manfaat, mengatakan kelangkaan minyak tanah menjadi salah satu alasan pentingnya alternatif energi seperti biogas.
"Minyak tanah sekarang langka hingga dua kali dalam sebulan, sementara setiap KK hanya boleh mendapat empat jeriken atau sekitar 20 liter," tuturnya.
Selain menghasilkan biogas, proses fermentasi kotoran sapi juga menghasilkan bioslurry yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Pemanfaatan tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia dari luar kampung. Ke depan, bioslurry juga dapat dikembangkan menjadi produk yang dipasarkan melalui BUMDes.
Pemanfaatan biogas juga diarahkan untuk menghasilkan energi listrik. Arief menjelaskan, dengan ketersediaan sekitar 20 ekor sapi, biogas yang dihasilkan berpotensi dikonversi menjadi listrik sebesar 2.000 watt selama lima jam per hari.