NADIKABAR.COM — Selama ini, kotoran sapi menjadi limbah yang mengganggu di Kampung Margorukun, Distrik Oransbari, Manokwari Selatan, Papua Barat. Di sisi lain, warga setempat kesulitan karena hanya mendapat jatah 20 liter minyak tanah per bulan.
Masalah berganda ini diatasi Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 08 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan inovasi kompor biogas. Kini, warga bisa lebih leluasa memasak, sementara kotoran sapi berkurang dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Manfaat tersebut mulai dirasakan langsung oleh warga. Aswati, salah satu mitra pengguna biogas, mengatakan penggunaan kompor biogas tidak jauh berbeda dengan kompor yang biasa digunakan.
"Sama dengan kompor biasa, namun saat ini masih adaptasi karena terbiasa menggunakan kompor minyak tanah. Api yang dihasilkan juga stabil dan menyala dengan sempurna," kata Aswati dalam keterangan tertulis, Kamis (7/10/2026).
Sementara itu, salah satu anggota TEP 08 ITS, Jinan, mengatakan biogas mulai dihasilkan setelah proses pemasukan kotoran sapi ke dalam reaktor berlangsung sekitar tiga minggu. Gas tersebut kemudian disalurkan ke kompor biogas dan telah dimanfaatkan untuk memasak.
"Api yang dihasilkan stabil, dapat diperbesar maupun diperkecil, dan tidak mengandung bau sama sekali. Tim juga mencoba merebus telur dengan hasil matang sempurna," ujar Jinan.