"Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang bersifat instan. Memampukan dan memberdayakan masyarakat adalah proses transfer pengetahuan dan transfer teknologi yang lebih penting lagi bagi kita semua," jelasnya.
Sementara itu di Segun, TEP mendampingi pembuatan kapal nelayan berbahan fiber dan juga mendorong pengadaan pupuk kompos untuk menjawab kelangkaan pupuk dengan melibatkan masyarakat. Di bidang UMKM, pisang yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini diolah menjadi keripik untuk dijual dan dipasarkan.
Karya TEP Brawijaya juga terlihat di Klamono Agro Living (KAL), kawasan berbasis agroforestri yang dirintis anak-anak muda setempat, dengan hidroponik, budidaya ikan, dan peternakan bebek. Petani muda asli Papua yang ikut merintis KAL, Theo Momot, mengaku sebelumnya banyak mengalami kegagalan menanam hidroponik.
"Ketika Tim Patriot masuk, saya sangat senang, karena ternyata masih banyak nutrisi atau bibit yang bagus, yang bisa menghasilkan hidroponik yang bagus untuk menambah pemasukan kami di sini," ungkap Theo.