NADIKABAR.COM — Timnas Indonesia harus mengalahkan Bangladesh dengan skor besar pada laga penentuan tempat ke final FIFA ASEAN Cup 2026 dari Grup A.

Bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis malam pukul 19.30 WIB, kemenangan besar akan meningkatkan peluang Garuda melangkah ke final, melewati pimpinan klasemen sementara Malaysia yang pada waktu bersamaan berjumpa Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Dikutip dari keterangan resmi PSSI, Kamis, jelang laga malam nanti, tak salah jika menilik ke laga sebelumnya saat Kevin Diks dan kolega bermain imbang 0-0 melawan Malaysia.

Terlihat jelas perjuangan tim Garuda di laga tersebut, yang sepantasnya harus dihargai dan terus didukung agar Garuda semakin solid seiring perjalanan waktu

Pertandingan Indonesia melawan Malaysia di SUGBK pada Senin lalu meninggalkan kisah yang jauh lebih besar daripada angka 0-0 di papan skor.

Pasalnya, sejak menit ke-37 setelah kartu merah Thom Haye melalui tinjauan VAR, Indonesia harus bertahan dengan 10 pemain. Hampir satu jam mereka bermain dalam keadaan kehilangan satu orang, tetapi tidak kehilangan keberanian.

Pada babak kedua, Malaysia menguasai tekanan dan terus mengirim ancaman. Maarten Paes berdiri sebagai benteng terakhir. Elkan Baggott dan Justin Hubner berulang kali memblok bola, sementara Kevin Diks mengawal sisi kanan sebagai kapten.

Joey Pelupessy bekerja di depan garis pertahanan untuk menjaga jarak antarlini. Di ujung pertandingan, Paes melakukan penyelamatan penting dan Hubner menyapu bola dari garis gawang.

Bagi Baggott, perjuangan itu menuntut perubahan sikap seketika. “Kita tahu ketika kita main 10 pemain kita harus adaptasi dengan kekurangan skuad itu,” ujar dia.

Ia mengakui Malaysia bermain baik, tetapi tetap menegaskan bahwa hasil tersebut patut disyukuri. “Tentu sulit menang dengan 10 pemain dan kami harus mengganti cara bermain kami, tapi hasil ini juga sudah kami syukuri”.

Hubner merasakan perubahan pertandingan itu secara langsung. “Pertandingan tadi, saya rasa kami mendominasi sampai terjadinya kartu merah. Ketika kami mendapatkan kartu merah, rasanya sangat sulit bagi kami untuk keluar menyerang,” kata pemain Fortuna Sittard itu.

Karena itu, ia meminta pujian diberikan kepada seluruh tim karena mereka mampu menjaga gawang tetap bersih sampai peluit akhir.

Sementara itu, Diks menyampaikan pesan yang sama dalam bahasa seorang kapten. “Kami harus berjuang sekuat tenaga, apresiasi untuk semua pemain yang tampil malam ini,” katanya. Pernyataan itu bukan basa-basi. Ketika rencana menang berubah menjadi misi bertahan, setiap tekel, sapuan, dan komunikasi menjadi bentuk tanggung jawab kepada rekan di sampingnya.

Paes kemudian menyebut detail yang memperjelas besarnya pengorbanan itu. Ia melihat Baggott mungkin melakukan delapan blok dan lima sapuan. Tentang Hubner, ia berkata, “Seperti yang saya katakan tentang Hubner di menit-menit terakhir, ini luar biasa.” Bagi sang kiper, perayaan bersama setelah laga menunjukkan “persaudaraan yang ada di dalam tim ini”.

Kata persaudaraan juga menjadi inti pesan John Herdman. “Ketika Anda punya suporter seperti itu, mereka ikut berjuang bersama. Kami sedang membangun sebuah persaudaraan di sini, mereka akan berjuang untuk satu sama lain,” kata pelatih asal Inggris itu.

Itulah arti perjuangan yang tampak di SUGBK, bahwa bukan kemenangan sempurna, melainkan keberanian untuk tetap berdiri ketika keadaan memaksa mundur.

Kritik terhadap taktik Herdman tetap muncul di media sosial, berdampingan dengan pujian kepada Paes, Baggott, dan Hubner.

Namun satu hal sulit dibantah adalah selama hampir 60 menit dalam situasi 10 lawan 11, Garuda tidak membiarkan dirinya runtuh. Dan dari malam itulah persaudaraan mereka mendapatkan ujian—sekaligus alasan untuk menjadi lebih kuat.

Malam ini, melawan Bangladesh, persaudaraan itu dibutuhkan lebih dari apa pun demi mencetak kemenangan penting yang menentukan langkah Garuda ke final.