Republik Irlandia telah menghadapi seruan untuk memboikot pertandingan melawan Israel sejak undian Nations League pada Februari.

November lalu, Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) menyetujui sebuah mosi yang menyerukan agar Uefa menangguhkan Israel dari kompetisi-kompetisi Uefa.

Pada Mei, pertandingan persahabatan Republik Irlandia melawan Qatar sempat terhenti setelah para suporter melemparkan bola tenis bergambar bendera Palestina ke lapangan.

Pada Juni, FAI mengonfirmasi bahwa pertandingan kandang mereka akan digelar tanpa penonton di Backa Topola, bukan di Stadion Aviva, Dublin. FAI menyebut adanya "tantangan operasional yang dapat memengaruhi penyelenggaraan pertandingan di kandang".

Dalam rapat umum luar biasa pada Juli, para delegasi mendukung mosi FAI untuk tetap melanjutkan pertandingan, di tengah kekhawatiran bahwa aksi boikot akan menimbulkan "kerugian yang signifikan dan berkepanjangan" bagi asosiasi tersebut.

Seruan agar Republik Irlandia memboikot pertandingan-pertandingan itu semakin menguat dalam beberapa pekan terakhir.

Awal pekan ini, lebih dari 160 atlet Irlandia menandatangani surat terbuka dari kelompok Irish Sport for Palestine yang mendesak tim tersebut untuk tidak bertanding.

Courell juga mengatakan pekan lalu bahwa Uefa telah menolak permintaan agar Republik Irlandia dan Israel tidak dipertemukan dalam undian kompetisi mendatang.

Ketegangan antara kedua tim meningkat pekan ini setelah Asosiasi Sepak Bola Israel menuduh Hallgrimsson menunjukkan "ketidaktahuan, kemunafikan, dan kebodohan", setelah sang pelatih mengatakan, "kami tidak bermain dengan genosida, kami bermain melawan genosida".

Berbicara pada Sabtu, Hallgrimsson mengatakan bahwa kata tersebut "tidak tepat untuk saya gunakan". Sementara itu, kepala komunikasi Asosiasi Sepak Bola Israel, Shlomi Barzel, mengatakan dia tidak akan meminta maaf atas tanggapan organisasinya, tetapi akan "menarik kembali kata 'kebodohan'".

Kelompok bersenjata Palestina Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang.

Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan militer besar-besaran di Gaza. Lebih dari 73.000 orang telah tewas selama operasi tersebut, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah itu. Angka dari kementerian tersebut dinilai dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Israel berulang kali membantah telah melakukan genosida, kejahatan perang, maupun kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel mengatakan operasi militernya di Gaza dilakukan sebagai bentuk pembelaan diri dan sesuai dengan hukum internasional.