βHari itu ia menangis seperti anak kecil yang baru saja diberi tahu bahwa mimpinya boleh menjadi nyata. Emas internasional pertamanya yang didapat Gischa itu bagai sebuah mukjizat, sebab ia tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika lawannya sempat memiliki lima kali kesempatan untuk menang mudah.
Setahun kemudian Gischa ada di Paris. Panggung terbesar yang bisa dibayangkan seorang atlet disabilitas. Ia pulang membawa perunggu nomor individu, ditambah perak beregu. Dia pula atlet Indonesia pertama yang menyumbang medali boccia di Paralimpiade. Orang-orang menyebutnya kejutan. Gischa menyebutnya pertolongan.
Lalu Thailand, Januari 2026. ASEAN lagi. Dua emas lagi, dari nomor individu dan beregu campuran.
Di sana ia bertemu Hiu Lam Yeung dari Hong Kong, lawan yang selama ini hampir selalu mengalahkannya. Ada lawan yang mengalahkan kita karena lebih kuat. Ada pula yang mengalahkan kita karena sudah terlalu lama tinggal di kepala kita. Hiu Lam termasuk yang kedua.