NADIKABAR.COM — Sebanyak 100 anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Jakarta Barat mengikuti simulasi penanggulangan kebakaran di kantor Wali Kota, untuk meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran di lingkungan masyarakat, Senin.
"Simulasi bertujuan memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan praktis kepada anggota FKDM agar mereka bisa menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan bahaya kebakaran," kata Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat, Suheri di Jakarta, Senin.
Dalam simulasi tersebut, peserta diberikan pelatihan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) serta teknik memadamkan api menggunakan karung goni basah, termasuk penanganan kebakaran akibat kebocoran gas.
Sementara itu, Ketua FKDM Jakarta Barat Boby Hendrawan mengapresiasi pelatihan yang diberikan Sudin Gulkarmat Jakarta Barat.
Menurutnya, pengetahuan dan keterampilan penanggulangan kebakaran sangat penting bagi anggota FKDM yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
"Sebagai anggota FKDM yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, pengetahuan tentang penanggulangan kebakaran ini sangat vital," katanya.
Ia berharap anggota FKDM di tingkat kelurahan dan kecamatan dapat meneruskan pengetahuan tersebut melalui sosialisasi kepada warga di wilayah masing-masing.
"Deteksi dini tidak hanya berkaitan dengan potensi konflik sosial, tetapi juga kerawanan bencana seperti kebakaran," ujarnya.
Intensitas kebakaran di wilayah Jakarta Barat (Jakbar) pada periode Januari sampai dengan Agustus 2026 meningkat sebanyak 9,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Intensitas kebakaran pada periode tersebut meningkat sebesar 9,51 persen atau bertambah 29 kejadian dibandingkan periode Januari-Agustus 2025.
Peningkatan paling signifikan terjadi pada kebakaran sampah, dari sembilan kejadian pada 2025 menjadi 63 kejadian pada 2026. Sementara kebakaran instalasi luar gedung juga meningkat dari 66 menjadi 74 kejadian.
Selanjutnya, kebakaran tumbuhan naik dari sembilan menjadi 25 kejadian, sedangkan kebakaran lapak meningkat dari delapan menjadi 12 kejadian.
Di sisi lain, sejumlah objek mengalami penurunan. Kebakaran bangunan perumahan turun dari 111 kejadian pada 2025 menjadi 78 kejadian pada 2026.
Selanjutnya, bangunan umum dan perdagangan turun dari 80 menjadi 70 kejadian, sedangkan bangunan industri turun dari 11 menjadi enam kejadian.