Seperti orang tua pada umumnya, Febri dan istri meminta Clarissa untuk fokus belajar. Bahkan ia juga dimasukkan ke tempat les untuk belajar bahasa Inggris.
Namun, soal minatnya terhadap fisika dan robotika bukanlah hasil paksaan dari orang tua. Clarissa menemukan passion-nya dengan mandiri.
Orang tua Clarissa memberikan kebebasan pada minatnya, selama itu positif, baru kemudian memberikan arahan tegas saat memasuki masa transisi sekolah yang lebih kompetitif.
Clarissa mulai menunjukkan perubahan besar saat masa pandemi COVID-19. Di kamarnya, ia memasang poster tokoh-tokoh besar seperti Einstein dan Marie Curie sebagai inspirasi.
Dari sana Clarissa mulai menemukan minatnya. Ia juga mulai memetakan strategi apa yag harus dilakukan untuk bisa tembus SMA impian.
"Ia prepare banget untuk masuk SMA MH Thamrin dan ambisinya tuh mulai kelihatan masuk MH Thamrin. Dari semula siswa biasa, akhirnya menjadi veledectorian (lulusan terbaik) dalam angkatannya di MH Thamrin.
Cara lain Febri dalam mengenalkan dunia luar kepada Clarissa adalah dengan mengajaknya ke luar negeri. Sang Ayah menceritakan bagaimana sejak usia 7 tahun, anak-anaknya diwajibkan membawa koper mereka sendiri tanpa bantuan.
"Saya waktu kecil tuh expose anak-anak tuh ke luar negeri, mungkin kalau ada rezeki gitu ya, 'Yuk anak-anak liburan'," katanya.