"Sejak masih kecil-kecil usia 7 tahun dan 4 tahun kedua anak dibiasakan mandiri saat keluar negeri. Bahkan saat mereka memasuki usia 10 tahun bawa dua buah koper gede-gede gitu dan dia bisa gitu. Saya membuat dia belajar mandiri, saya nggak mau ngasih saya bilang, 'Kita naik angkutan umum ya naik bus naik kereta, kamu harus bawa koper sendiri', akhirnya itu sangat membantu ya jadi anak-anak jadinya lebih mandiri," tuturnya.
Meski tidak memaksakan nilai, sang ibu memastikan Clarissa memiliki fondasi hard skill yang kuat. Sejak kecil, Clarissa sudah diikutkan les bahasa Inggris dan matematika.
Selain itu, pengalaman sang ibu saat melanjutkan studi spesialis kedokteran semasa Clarissa kecil turut memengaruhi cara pandang Clarissa. Meski sang ibu merupakan dokter, ia tak memaksakan anaknya untuk seperti dirinya.
"Clarissa kan memang dia dari hamil kan udah ikut saya maksudnya udah masuk sekolah mungkin orang-orang pada dengerin lagu klasik, lagu Mozart tapi kan dia mendengarkan orang kuliah gitu ya saya," kata Ratna.
Perjalanan Clarissa tidak selalu mulus. Ia sempat merasakan pahitnya ditolak oleh kampus impiannya, MIT, serta gagal meraih medali emas di OSN Nasional. Namun, alih-alih memberikan hukuman (punishment), orang tuanya justru memberikan dukungan moral dan doa.
"Kami bilang, buktikan ke teman-teman kamu yang diterima di kampus-kampus terkemuka di USA bahwa kamu bisa melebihi mereka dengan prestasi," ujar sang ayah.
Terbukti, Clarissa kini justru sukses membangun dua startup (Clean AI dan StudiLanjut) dan diakui secara internasional.