Ayahnya merupakan Bupati Tulungagung masa itu, sehingga Soejono memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Ia juga berkarier di pemerintahan sejak 1911 hingga dipercaya menjadi Bupati Pasuruan pada 1915-1927 pada usia yang masih 30 tahunan.

Tak hanya itu, Soejono juga menjadi anggota Volksraad, lembaga perwakilan pada zaman Hindia-Belanda pada 1920-1930. Karier ini yang mengantarkannya menjadi tokoh pemerintahan yang sering mengikuti seminar dan pelatihan hingga ke Belanda.

Sampai pada 1942, keberadaan Jepang membuat Hindia Belanda terancam. Sejumlah pejabat pun banyak yang meninggalkan Jawa.

Dalam sidang kabinet pertama yang dihadiri Soejono, Perdana Menteri Gerbrandy mengakui keberadaannya. Dia berbicara tentang "saat bersejarah, karena sekarang untuk pertama kalinya seorang putra bangsa Indonesia menjadi anggota Pemerintah Belanda". Kata-kata itu kemudian disambut dengan tepuk tangan.

Dalam beberapa kesempatan, Soejono berbicara tentang tanggung jawab besar yang akan diembannya, termasuk terkait hubungan dengan bangsa Indonesia. Ia optimis bahwa kerja sama di dalam kabinet (Belanda) akan mendatangkan hasil yang baik. Ia juga berjanji kepada rekan-rekannya di Belanda untuk bekerja sama.