Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh tiga periode (1985–1991, 1991–1995 dan 1995–1999) ini merupakan putra kelahiran Sigli, 9 Oktober 1945. Selama puluhan tahun, hidupnya didedikasikan untuk dunia jurnalistik dan perkembangan pers di Aceh.
Namanya dikenal luas sebagai salah satu tokoh sentral dan perintis berdirinya Harian Serambi Indonesia, bersama sahabatnya, almarhum M Nourhalidyn (1943–2000).
Ia mendedikasikan hidupnya untuk membangun dan membesarkan media cetak kebanggaan masyarakat Aceh tersebut hingga menjadi pilar informasi yang kredibel hingga hari ini.
Pengabdiannya melewati situasi yang tidak mudah. Masa konflik Aceh, kerja jurnalistik menghadapi tekanan dan ancaman. Pada 1999, rumah Sjamsul Kahar pernah diserang bom molotov. Bahkan, ia menerima ancaman kematian terkait pekerjaannya sebagai pimpinan redaksi Serambi Indonesia.
Tak hanya itu, salah satu bagian terpenting dalam perjalanan Sjamsul Kahar terjadi ketika tsunami menghantam Aceh pada 26 Desember 2004.