Bencana itu menghancurkan kantor dan mesin cetak Serambi Indonesia. Puluhan pekerja media menjadi korban atau hilang. Surat kabar yang menjadi sumber informasi masyarakat Aceh itu sempat berhenti terbit.
Enam hari setelah musibah dahsyat itu, pada 1 Januari 2005, koran itu kembali terbit dengan sumber daya yang sangat terbatas dan menggunakan mesin cetak di Lhokseumawe.
Bagi keluarga, Sjamsul Kahar adalah seorang ayah. Tetapi bagi pers, ia adalah bagian dari generasi yang membangun fondasi jurnalistik Aceh.
Hingga tahun-tahun terakhir kehidupannya, perhatian Sjamsul Kahar terhadap sejarah pers dan profesi wartawan tetap terlihat. Pada 2023, ketika PWI Aceh menampilkan sejarah perjalanan organisasi dalam Pekan Kebudayaan Aceh, ia mengingatkan pentingnya sejarah pers diketahui masyarakat dan generasi muda.
Kini, kepergian Sjamsul Kahar meninggalkan duka. Jejak kerjanya mengingatkan satu hal. Bahwa Pers hadir untuk menjaga agar masyarakat tetap memiliki informasi, bahkan ketika keadaan membuat hampir semua hal lain terhenti.