NADIKABAR.COM — Para peternak ayam petelur dari berbagai daerah yang tergabung dalam Pinsar Petelur Nasional (PPN) menyampaikan keluhanannya di hadapan Komisi IV DPR RI. Dikatakan melonjaknya harga pakan ayam membuat biaya operasional kian mencekik usaha peternakan rakyat hingga terancam berhenti berproduksi.
Perwakilan Pinsar Petelur Nasional (PPN), Suardi, mengungkapkan bahan pakan ayam petelur khususnya jagung dan bungkil kedelai merupakan biaya terbesar dari total modal utama produksi mereka. Kondisi ini membuat komponen pakan menjadi faktor penentu utama kelangsungan usaha peternakan.
"50% beban produksi peternak itu ada di jagung. Satu hal yang tidak kalah penting adalah 25% itu berasal dari bungkil kedelai," jelasnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (7/10/2026).
Dalam hal ini, ia menjelaskan harga bungkil kedelai normal berada di kisaran Rp 7.200-7.500 per kilogram. Namun saat ini harga bahan pakan ayam petelur itu sudah naik jadi Rp 9.900-10.000 per kilogram jika dibeli dari BUMN-BUMN yang mendapatkan tugas untuk melakukan importasi dan penjualan bahan pakan tersebut.