Sayangnya, torpedo ini juga memiliki kelemahan. Penggunaan oksigen murni terkompresi membuat torpedo ini sangat sensitif dan berisiko memicu ledakan sekunder yang fatal jika kapal pengangkutnya terkena tembakan musuh.

Torpedo ini terbukti sangat mematikan pada awal Perang Dunia II, terutama dalam Pertempuran Laut Jawa (menenggelamkan kapal penjelajah Belanda De Ruyter dan Java), Pertempuran Selat Sunda (Houston dan HMAS Perth), Pulau Savo (Quincy, Vincennes, Astoria), Tassafaronga (Northampton), Teluk Kula (Helena), HMS Exeter, serta setidaknya 11 kapal perusak Sekutu lainnya.

AS tadinya sempat tak percaya dengan kemampuan kapal ini. Pihak militer Amerika Serikat baru menyadari kemampuan asli dan spesifikasi torpedo Type 93 ini secara utuh setelah berhasil menemukan fisik torpedo yang masih utuh pasca-Kampanye Guadalcanal pada tahun 1943.