NADIKABAR.COM — Jamasan Gong Kiai Pradah di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar menjadi salah satu tradisi budaya yang dilestarikan, dan masuk dalam daftar warisan tak benda. Tradisi itu juga dibarengi aksi rebutan air bekas jamasan oleh ribuan warga yang menyakini membawa berkah.

Pantauan NadiKabar, ribuan warga memadati kawasan Alun-alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar sejak pagi. Mulai dari anak-anak hingga lansia tampak antusias menyaksikan jamasan tersebut meskipun di bawah terik matahari.

Jamasan Gong Kiai Pradah dimulai dengan kirab dari tempat penyimpanan di Pendopo sebelah barat. Setelah itu, gong dibawa menuju ke tempat jamasan di bangunan panggung atau menara. Di situ, gong Kiai Pradah dibersihkan dengan air kembang hingga dibaluri boreh dan sebagainya.

Selanjutnya, Gong Kiai Pradah ditutup kembali dengan kain putih dan dibawa ke Pendopo untuk disimpan. Terakhir, prosesi jamasan akan ditutup dengan pemotongan tumpeng nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur bersama.

Dua mobil damkar digunakan untuk menampung air bekas jamasan Gong Kiai Pradah itu. Sejumlah warga juga yang membawa botol untuk menampung air bekas jamasan yang disiramkan oleh petugas Damkar.

"Sudah tau ada sejak dulu, tapi baru ikut nonton pertama kali ini. Diajak saudara dan keluarga. Ternyata banyak sekali, ramai sekali orangnya yang datang," ujar salah seorang warga dari Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, Ashari (25) kepada NadiKabar, Kamis (27/8/2026).

Ashari mengaku kaget dengan banyaknya pengunjung yang datang menyaksikan jamasan Gong Kiai Pradah. Selain itu, warga juga membawa botol masing-masing untuk mencari air bekas jamasan tersebut.

"Ini ikutan bawa botol untuk wadah air itu (bekas jamasan). Katanya buat cari berkah, jadi ngikut saja. Seru ternyata," katanya.

Bupati Blitar, Rijanto mengatakan jamasan Gong Kiai Pradah merupakan agenda rutin setiap tahun. Tradisi itu juga telah ditetapkan sebagai warisan tak benda, yang terus dilestarikan hingga saat ini.

Selain itu, lanjut Rijanto, agenda itu turut menjadi momen untuk mendongkrak wisata budaya dan ekonomi masyarakat. Salah satunya melalui bazar UMKM yang diadakan sejak sebelum jamasan Gong Kiai Pradah.

"Kegiatan ini tidak hanya untuk melestarikan tradisi budaya, tapi juga untuk mendongkrak kebutuhan ekonomi masyarakat. Tentu kami turus berupaya untuk mengembangkan potensi wisata budaya secara maksimal. Harapannya masyarakat juga dapat menikmati dengan aman," tandasnya.