NADIKABAR.COM — Mata air Kedungdowo di Kecamatan Panggul, Trenggalek menjadi sumber kehidupan masyarakat sejak ratusan tahun silam. Anugerah alam ini terus dijaga kelestariannya.

Sebagai bentuk rasa syukur, masyarakat menggelar tradisi metri bumi. Tradisi ini menjadi pengingat, kelestarian alam dan sumber air harus terus dirawat karena kehidupan manusia bergantung pada bumi.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengatakan, tradisi metri bumi merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Menurutnya, metri bumi bukan sekadar seremonial belaka. Namun, telah dibarengi langkah nyata masyarakat dengan merawat mata air tetap lestari hingga kini.

"Namanya memetri bumi. Sebenarnya kan merawat bumi ini menjadi bagian dari bagian rutin dari gelaran Hari Jadi Trenggalek. Perlu diingat bahwa masyarakat bisa hidup karena buminya masih memberikan kehidupan. Ini sebenarnya pesan pentingnya," kata M Nur Arifin.

Dijelaskan, seluruh pendapatan daerah atau perputaran perekonomian Trenggalek berbasis alam, mulai dari pertanian, perikanan hingga peternakan. Keberpihakan pada kelestarian alam menjadi pilihan agar pendapatan dan perekonomian terus tumbuh.

"Kita masih berpihak kepada pertanian, peternak dan juga perikanan. Tidak ada ikan kalau tidak ada laut yang masih terjaga. Kemudian tidak ada sawah yang baik kalau tidak ada air. Tidak ada air kalau tidak ada kawasan karst atau kawasan hutan yang terjaga, maka itu menjadi satu rangkaian," jelasnya.

Pihaknya mengajak masyarakat untuk terus merawat alam agar sumber-sumber kehidupan masyarakat terus tersedia. Ia mengingatkan ketersediaan pasokan air di tengah musim kemarau menjadi salah satu tantangan besar bagi masyarakat di Trenggalek.

Gerakan nyata di penyelamatan lingkungan perlu ditingkatkan agar Trenggalek ke depan terhindar dari bencana kekeringan, banjir dan longsor.

"Mari jaga alam, agar alam menjaga kita," jelasnya.