Dengan demikian, Ipoeng memastikan para pekerja masih dapat beraktivitas dan mendapatkan penghasilan seperti biasa untuk sementara waktu.

"Jadi tetap mereka akan beraktivitas dan mendapatkan gaji seperti biasa. Cuma memang kalau lebih dari 20 hari, kami juga harus menyiapkan anggaran," jelasnya.

Di sisi lain, penghentian operasional Trans Banyumas menjadi beban cukup berat bagi operator. Sebab, ketika bus tidak melayani penumpang, operator tidak mendapatkan pemasukan. Namun, sejumlah kewajiban pembayaran tetap harus dipenuhi.

Ipoeng memperkirakan operator harus menanggung pengeluaran hampir miliaran jika Trans Banyumas tidak beroperasi selama satu bulan.

"Jadi operator itu memang berat sekali. Pertama masih cicilan, sekitar nanti bulan Maret baru lunas. Kemudian berikutnya adalah bayar gaji, kemudian ada alat-alat atau alat bantu yang kami sewa dan mereka tetap meminta pembayaran, karena bukan kesalahan mereka," tuturnya.

Kondisi tersebut membuat operator harus tetap menyediakan anggaran untuk memenuhi berbagai kewajiban meski tidak memperoleh pendapatan dari layanan bus.

"Perkiraan pengeluaran operator hampir Rp 2 miliar ketika satu bulan itu tidak beroperasi," imbuhnya.

Ipoeng menyebut kondisi penghentian operasional ini merupakan kejadian luar biasa bagi operator. Karena itu, apabila penghentian berlangsung lebih lama dari perkiraan, pihaknya kemungkinan harus mengambil kebijakan khusus terkait penghasilan para pekerja.