"Makanya ini kasihan itu yang anak-anak dari Purwokerto sekolahnya di Banyumas, akhirnya bingung mereka," katanya.
Karena itu, Haryo berharap proses transisi pengelolaan Trans Banyumas dari APBN ke APBD dapat segera rampung.
"Iya, jadi itu yang diinginkan. Kami juga nggak mau lah lama-lama seperti ini," tegasnya.
Sebagai sopir, ia juga sempat kebingungan soal nasibnya saat mendapat informasi Trans Banyumas bakal dihentikan. Namun, saat ini Haryo bisa bernapas lega karena telah mendapat informasi dirinya akan tetap digaji.
"Ya dampaknya kami juga masih gimana ya, ini namanya nggak kerja kan masih pikirannya, aduh saya dibayar apa nggak kan seperti itu. Tapi alhamdulillah sudah ada kepastian bahwa kita masih mendapatkan gaji," ujarnya.
"Seperti CS terus tukang cuci itu yang memang mereka mulai 1 September ini sementara waktu tidak berangkat, jadi berhenti sementara," sambung Haryo.
Selama tidak beroperasi mengangkut penumpang, para sopir dan pengelola tidak lantas berdiam diri. Mereka memanfaatkan waktu untuk melakukan perawatan kendaraan.
"Kami melakukan perbaikan-perbaikan kendaraan. Kalau ada yang kekurangan-kekurangan kami perbaiki. Terus tadi juga rombongan ada 20 mobil yang melaksanakan uji KIR," jelas Haryo.