Di sisi lain, Haryo mengaku cukup banyak penumpang yang menanyakan kapan Trans Banyumas kembali beroperasi. Pertanyaan tersebut bahkan masuk melalui pesan WhatsApp.

"Kebetulan sih ada dan juga rekan-rekan banyak yang di WA, gimana ini kok nggak jalan, kapan jalan. Seperti itu sih, banyak sekali," tuturnya.

Sementara, pengguna Trans Banyumas bernama Novi, warga Patikraja, mengaku sedih dengan penghentian sementara layanan tersebut. Novi bahkan mengaku tidak keberatan jika tarif Trans Banyumas nantinya mengalami kenaikan, asalkan layanan kembali berjalan.

"Sedih banget terus terang. Kenapa sih dihentikan, apalagi nggak tahu sampai kapan," ujar Novi.

"Kalau aku secara pribadi lebih suka tarifnya dinaikkan. Karena kan jalurnya sudah terintegrasi, bisa ke stasiun juga. Bus nyaman, tidak ada waktu ngetem lama. Saya dari Patikraja suka Baturraden nyaman banget. Nggak apa-apa naik tarif, asal tetap jalan," sambungnya.

Sebelumnya, Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono memastikan Pemkab Banyumas tengah mempercepat proses peralihan pendanaan operasional Trans Banyumas dari APBN ke APBD.

Pemkab juga melakukan evaluasi terhadap operasional Trans Banyumas, termasuk kemungkinan penyesuaian jumlah koridor dan tarif.

Sadewo menargetkan proses transisi dapat rampung pada pertengahan September. Namun, jika terdapat kendala, operasional Trans Banyumas diperkirakan paling lambat kembali berjalan pada akhir September atau awal Oktober 2026.