Menurutnya, AI kini telah merambah berbagai aspek akademik, mulai dari penyusunan karya ilmiah hingga pengembangan kreativitas mahasiswa. Kesadaran kolektif dari seluruh sivitas akademika, termasuk di lembaga pendidikan Islam, menjadi kunci dalam menghadapi arus teknologi ini.
"Kita tidak bisa lepas dengan teknologi AI tersebut. Itu yang perlu untuk menjadi kesadaran bersama dari mahasiswa, dari dosen, termasuk yang ada di UNIPI dan juga gerakan seperti Persatuan Islam dan sebagainya," jelas Najib.
Ia juga mendorong perguruan tinggi dan umat Islam untuk tidak sekadar menjadi penikmat teknologi, tetapi juga mampu berkontribusi aktif dalam pengembangannya dengan tetap menjaga orisinalitas karya.
"Kadang kita hanya menjadi pasar atau pemanfaat, belum menjadi pengguna. Inilah yang kita perlu dari perguruan tinggi, dari umat Islam untuk kemudian memiliki kesadaran dan juga bangkit tidak sekadar sebagai konsumen, tetapi juga menjadi produsen," tegasnya.