Sepanjang jalan, papan wisata bermunculan: camping ground, Curug Mutiara, Gunung Keramat, glamping, trekking, family gathering.

Perbukitan Karang Tengah rupanya bukan lagi ruang sunyi yang hanya dikenal warga. Ia tumbuh menjadi koridor wisata alam dengan ekonomi kecil yang hidup di sekelilingnya. Tetapi jalannya belum sepenuhnya mengikuti pertumbuhan itu. Mobil wisata, angkutan bak terbuka, motor warga, truk, semuanya bernegosiasi di jalan desa yang sama.

Setelah loket, —kami tiba di basecamp. Pukul 08.29, sebelum melangkah, Egi memimpin doa.

Lalu mulailah bagian yang segera mengoreksi bayangan tentang istilah trek medium: hampir satu jam pertama, tanjakan seperti enggan berakhir.

Musim sedang kemarau. September cerah. Tanah kering, keras, dan pada beberapa tempat berdebu. Sepatu menginjak campuran tanah padat, kerikil, batu menonjol dan akar. Jalannya kadang cukup sempit di sisi lereng.

Kaki tak bisa sembarangan diletakkan. Sesekali saya harus berhenti sepersekian detik untuk memilih pijakan, memindahkan bobot badan, lalu melangkah lagi. Napas mulai menemukan iramanya sendiri: tarik, buang, melangkah. Tarik, buang, melangkah lagi. Ritmis.