Di salah satu bagian terdapat papan peringatan rawan tanah longsor dan pohon tumbang. Tidak jauh kemudian muncul petunjuk jarak: Leuwi Ceupet sekitar 1,5 kilometer, Leuwi Lieuk dua kilometer, Cibaliung sekitar 3,3 kilometer.
Masih jauh perjalanan. Anehnya, justru di situlah treking mulai nikmat.
Jalur di kiri-kanan bukan hutan seragam. Ia seperti lorong botani yang berganti wajah setiap beberapa puluh meter. Kami melewati durian, alpukat, nangka, bambu, pisang, semak dan tanaman merambat.
Ada durian yang oleh orang setempat disebut “Duren Salak.” Saya sempat penasaran. Mengapa salak? Kata mereka bukan karena rasanya seperti salak, melainkan bijinya kecil-kecil seperti biji salak.
Egi juga sesekali berubah dari pemandu trek menjadi guru botani dadakan. Ia menunjukkan belimbing buluh atau belimbing wuluh, daun sintrong yang biasa dijadikan lalapan, juga buah yang ia sebut berry.
Kami pun melewati lanskap kopi. Ini bukan dekorasi wisata semata. Kajian Kementerian Pertanian memang mencatat Karang Tengah sebagai wilayah budidaya kopi robusta, dan Babakan Madang mempunyai areal perkebunan robusta yang dikelola masyarakat. Plang di situ memvalidasinya.