NADIKABAR.COM — “Dalam setiap perjalanan bersama alam, kita menerima jauh lebih banyak daripada yang kita cari.” — John Muir (1838–1914), naturalis, penulis alam Amerika
Kali ini perjalanan saya adalah traveling, treking Cibaliung, Sabtu pagi, 5 September. Bukan pendakian gunung tinggi, tetapi juga bukan jalan santai di taman.
Cibaliung berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, sebuah kawasan perbukitan dengan ketinggian desa sekitar 529 meter di atas permukaan laut.Itu angka kawasan, bukan elevasi presisi titik Curug Cibaliung.
Watak treknya dibentuk oleh tanjakan, jalan tanah dan batu, kebun, hutan, sungai, leuwi, serta curug. Rute kategori medium di kawasan Leuwi Hejo–Cibaliung lazimnya sekitar 6–7 kilometer pulang-pergi, menghubungkan titik-titik seperti Leuwi Hejo, Benjol, Barong, Ceupet, Lieuk, Lengsa hingga Cibaliung. Di atas kertas terdengar sedang. Di kaki, ceritanya lain.
Pukul 07.10 kami tiba di JungleLand, titik temu pertama dengan guide, Egi. Belum juga sepatu treking benar-benar bekerja, perjalanan sudah memberi pembuka. Baru sekitar lima menit mobil bergerak menuju basecamp, kendaraan tersendat. Jalan aspal kecil dan sempit, tetapi dua arah. Mobil pribadi, sepeda motor, bahkan truk saling berbagi ruang.
Macet pertama sekitar tujuh menit. Setelah lancar, jalan mulai naik-turun mengikuti kontur perbukitan. Rumah dan bangunan perlahan berkurang, hutan serta kebun mengambil alih pemandangan. Kabut tipis menggantung di punggungan. Tidak lama kemudian kami kembali antre sekitar lima menit di jalan mendaki yang aspalnya rusak dan berlubang.
Di depan kami terlihat sekitar lima mobil bak terbuka membawa para trekker. Belum sampai hutan, suasana wisata akhir pekan sudah terasa.
Sepanjang jalan, papan wisata bermunculan: camping ground, Curug Mutiara, Gunung Keramat, glamping, trekking, family gathering.
Perbukitan Karang Tengah rupanya bukan lagi ruang sunyi yang hanya dikenal warga. Ia tumbuh menjadi koridor wisata alam dengan ekonomi kecil yang hidup di sekelilingnya. Tetapi jalannya belum sepenuhnya mengikuti pertumbuhan itu. Mobil wisata, angkutan bak terbuka, motor warga, truk, semuanya bernegosiasi di jalan desa yang sama.
Setelah loket, —kami tiba di basecamp. Pukul 08.29, sebelum melangkah, Egi memimpin doa.
Lalu mulailah bagian yang segera mengoreksi bayangan tentang istilah trek medium: hampir satu jam pertama, tanjakan seperti enggan berakhir.
Musim sedang kemarau. September cerah. Tanah kering, keras, dan pada beberapa tempat berdebu. Sepatu menginjak campuran tanah padat, kerikil, batu menonjol dan akar. Jalannya kadang cukup sempit di sisi lereng.
Kaki tak bisa sembarangan diletakkan. Sesekali saya harus berhenti sepersekian detik untuk memilih pijakan, memindahkan bobot badan, lalu melangkah lagi. Napas mulai menemukan iramanya sendiri: tarik, buang, melangkah. Tarik, buang, melangkah lagi. Ritmis.
Di salah satu bagian terdapat papan peringatan rawan tanah longsor dan pohon tumbang. Tidak jauh kemudian muncul petunjuk jarak: Leuwi Ceupet sekitar 1,5 kilometer, Leuwi Lieuk dua kilometer, Cibaliung sekitar 3,3 kilometer.
Masih jauh perjalanan. Anehnya, justru di situlah treking mulai nikmat.
Jalur di kiri-kanan bukan hutan seragam. Ia seperti lorong botani yang berganti wajah setiap beberapa puluh meter. Kami melewati durian, alpukat, nangka, bambu, pisang, semak dan tanaman merambat.
Ada durian yang oleh orang setempat disebut “Duren Salak.” Saya sempat penasaran. Mengapa salak? Kata mereka bukan karena rasanya seperti salak, melainkan bijinya kecil-kecil seperti biji salak.
Egi juga sesekali berubah dari pemandu trek menjadi guru botani dadakan. Ia menunjukkan belimbing buluh atau belimbing wuluh, daun sintrong yang biasa dijadikan lalapan, juga buah yang ia sebut berry.
Kami pun melewati lanskap kopi. Ini bukan dekorasi wisata semata. Kajian Kementerian Pertanian memang mencatat Karang Tengah sebagai wilayah budidaya kopi robusta, dan Babakan Madang mempunyai areal perkebunan robusta yang dikelola masyarakat. Plang di situ memvalidasinya.