Ia mengatakan ketidaksesuaian antara budaya yang ingin dibangun perusahaan dan fasilitas di tempat kerja dapat berdampak terhadap pembentukan budaya perusahaan serta produktivitas pekerja.
Karena itu, ruang kerja perlu dirancang fleksibel untuk mengakomodasi berbagai aktivitas, mulai dari kolaborasi, pertemuan kelompok kecil, hingga pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan privasi.
Selain kebutuhan saat ini, perencanaan ruang kerja juga perlu mempertimbangkan perkembangan organisasi dalam lima hingga 10 tahun mendatang, termasuk kemungkinan perubahan jumlah pekerja dan pola kerja.
“Jadi ketika ada perubahan, tidak perlu melakukan investasi besar lagi karena ruangnya sudah bisa beradaptasi,” katanya.
Sementara itu, President Director Vivere William Simiadi mengatakan perubahan kebutuhan perusahaan, pekerja, dan organisasi membuat pengembangan ruang kerja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.