Ubah foto ini menjadi foto yang seolah-olah diambil di Indonesia pada tahun 1980-an. Pertahankan wajah, identitas, warna kulit dan proporsi tubuh subjek. Gunakan pakaian, gaya rambut, kendaraan, arsitektur, lingkungan dan benda yang masuk akal untuk Indonesia pada dekade 1980-an. Gunakan warna foto analog, grain film yang natural dan pencahayaan realistis. Jangan memasukkan logo, kendaraan, bangunan atau teknologi yang baru muncul setelah era 1980-an.

Salah satu masalah pada foto retro buatan AI adalah hasilnya terkadang terlalu "kostum" sehingga hanya terlihat seperti orang masa kini yang mengenakan pakaian lama. Karena itu, prompt bisa ditambahkan dengan instruksi seperti "historically believable", "natural 1980s photography", atau "no modern objects".

Media yang membahas tren ini juga mencatat bahwa AI dapat menghasilkan detail yang kurang autentik, misalnya benda modern yang masih muncul dalam latar atau pakaian yang terlalu berlebihan.

Pengguna juga dapat menentukan konteks secara lebih spesifik. Misalnya, jika ingin foto keluarga, sebutkan "foto keluarga di ruang tamu Indonesia pada 1980-an". Jika ingin foto jalanan, jelaskan lingkungan yang diinginkan. Semakin jelas konteks yang diberikan, semakin terarah hasil yang diharapkan.

Tren ini tidak terbatas pada satu jenis foto. Foto tunggal dapat dibuat menjadi potret individu, sedangkan foto bersama bisa diarahkan menjadi foto pasangan atau keluarga dengan suasana 1980-an. Hal yang penting adalah tetap memberikan instruksi agar identitas orang dalam foto dipertahankan.

Misalnya dengan menambahkan kalimat, "pertahankan wajah dan ciri fisik asli, jangan mengubah identitas subjek." Dengan begitu, AI diarahkan untuk mengubah gaya visual dan konteks waktunya, bukan mengganti orang yang ada dalam foto.

Tren foto 1980-an pada akhirnya menjadi salah satu cara menggunakan AI untuk bereksperimen dengan nostalgia. Tidak hanya membuat foto terlihat tua, pengguna juga dapat menentukan cerita, pakaian, lokasi dan suasana sehingga hasilnya lebih personal.