Pada 2026, aktivitas semacam ini kembali terlihat dalam berbagai kegiatan komunitas. Di Jakarta, misalnya, kegiatan Critical Mass mempertemukan ratusan pesepeda dengan beragam jenis sepeda, mulai dari sepeda lipat, gravel, fixed gear, road bike, city bike hingga touring.
Menariknya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kultur sepeda tidak harus terikat pada satu jenis sepeda tertentu.
Perkembangan kultur sepeda juga terlihat dari semakin populernya gravel.
Sepeda gravel menawarkan karakter yang berada di antara road bike dan sepeda untuk medan yang lebih kasar. Penggunanya dapat menjelajahi jalan aspal sekaligus mencari rute alternatif yang tidak selalu cocok untuk sepeda balap konvensional.
Karakter tersebut membuat gravel cukup dekat dengan tren bersepeda yang mengutamakan eksplorasi.
Salah satu contohnya adalah Nggravel Glenmore 2026 di Banyuwangi yang menarik pesepeda dari berbagai daerah. Komunitas lokal Samar Wulu turut menjadi tuan rumah dan menggunakan kegiatan gowes untuk menjelajahi rute yang memiliki unsur "blusukan".
Di sini, sepeda bukan hanya alat untuk mencapai garis finis. Rute dan suasana perjalanan justru menjadi bagian penting dari pengalaman.
Tren lain yang menarik adalah bikepacking.
Secara sederhana, bikepacking merupakan perjalanan menggunakan sepeda dengan membawa perlengkapan yang diperlukan selama perjalanan. Konsepnya bisa dilakukan dalam skala sederhana, seperti perjalanan satu atau dua hari, hingga perjalanan lintas daerah.
Berbeda dengan gowes biasa, bikepacking membuat perjalanan menjadi tujuan itu sendiri.
Pesepeda bisa menentukan rute, mencari tempat untuk beristirahat, mengunjungi lokasi wisata, hingga menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.
Konsep ini juga beririsan dengan tren sport tourism. Sepeda memungkinkan seseorang mengunjungi daerah yang mungkin tidak akan dilewati ketika menggunakan kendaraan bermotor.
Bagi sebagian pesepeda, perjalanan bahkan tidak berhenti pada puluhan kilometer.