NADIKABAR.COM — Liburan di Jepang semakin menarik dengan berbagai pengalaman yang diberikan. Ada tren staycation baru namanya sleep tourism.
Hotel-hotel di Jepang menawarkan pengalaman menginap yang dirancang untuk membantu wisatawan tidur lebih nyenyak. Tren sleep tourism atau wisata tidur ini memberikan alternatif bagi turis untuk melepas penat di hotel, seperti dikutip dari Kyodo News, Jumat (11/9/2026).
Pihak hotel menyertakan layanan khusus terkait tidur dalam paket akomodasi mereka. Perlengkapan tidur akan disesuaikan dengan kebutuhan pribadi, minuman yang menenangkan serta fasilitas pendukung tidur yang nyaman.
Tak cuma itu, ada hotel-hotel yang memanfaatkan teknologi untuk memantau tidur tamu. Nantinya tamu akan mendapatkan saran untuk meningkatkan kualitas tidur mereka.
Salah satunya di Hotel 1988 Tokyo, tamu dapat mengikuti program menginap khusus tidur yang memadukan unsur teh dan relaksasi.
Sementara di Hotel Chizanso Tokyo, tamu akan dijamu dengan pendekatan berbasis teknologi dengan menggunakan perangkat pemantau tidur untuk memberikan wawasan mengenai pola tidur.
Di Prefektur Kanagawa, Malibu Hotel menawarkan pengalaman menginap yang berfokus pada tidur dengan menyediakan perlengkapan tidur yang disesuaikan dengan kebiasaan tidur masing-masing tamu.
Para ahli pariwisata menyatakan bahwa meningkatnya minat terhadap wisata tidur mencerminkan tingginya permintaan akan pengalaman kesehatan dan kesejahteraan. Ternyata selama ini semakin banyak wisatawan yang mencari cara untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental mereka saat berlibur.
Menurut National Geographic, wisata tidur semakin populer karena wisatawan kian meminati perjalanan yang berfokus pada istirahat dan kualitas tidur yang lebih baik. Tren ini mencakup beragam pengalaman, mulai dari retret khusus tidur dan program yang didukung secara medis hingga pengalaman menginap yang dirancang untuk mendukung relaksasi.
Jepang melihat peluang dalam pasar ini, wisata tidur diperkirakan tumbuh secara signifikan.
Sebuah laporan dari perusahaan riset pasar Fortune Business Insights yang diterbitkan pada awal Agustus memperkirakan nilai pasar wisata tidur global mencapai USD 84,65 miliar (Rp 1,4 triliun) pada tahun 2025 dan diproyeksikan akan mencapai USD 265,85 miliar (Rp 4,6 triliun) pada tahun 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 13,56%.