Menurut Araghchi, para mediator yang memfasilitasi pembicaraan Iran dengan AS belum secara resmi menyampaikan penolakan AS terhadap rencana tersebut.
"Kami sedang menunggu para mediator menyampaikan pandangan pasti kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut," tulis Araghchi.
Seorang pejabat AS mengatakan diskusi dengan Iran melalui mediator berlangsung 'positif dan konstruktif'. Pihak Iran juga menjalin komunikasi dengan rival mereka, Arab Saudi, terkait Selat Hormuz.
Hal ini menggarisbawahi besarnya taruhan dalam perang yang telah berlangsung selama 7 bulan tersebut, yang telah mengganggu aliran minyak melalui jalur pelayaran vital serta berdampak buruk pada ekonomi global.
Araghchi mengatakan kepada para wartawan di PBB bahwa kesepakatan yang diusulkan tersebut akan memicu hitung mundur 7 hari menuju pembukaan kembali selat itu dan jeda dalam pertempuran di kawasan tersebut.
"Jika ada keseriusan dari pihak AS untuk mencapai kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz, segalanya kini sudah siap," ujar Araghchi.
Jika AS setuju, katanya, pihak-pihak yang bertikai dapat memulai pembicaraan yang lebih luas 'mengenai topik-topik yang disepakati bersama' Hal itu berpotensi mencakup pembahasan mengenai program nuklir Iran.