Trump telah menyatakan Teheran tidak boleh memiliki bom nuklir, sementara seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Iran tidak akan menunjukkan kelenturan terkait program nuklirnya, bahkan jika AS menerima kesepakatan damai tersebut.
Iran tidak akan memberikan konsesi apa pun terkait hak-haknya, termasuk pengayaan uranium atau pengiriman uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan acara CBS 'Face the Nation', mengatakan Teheran siap untuk melakukan pembicaraan mengenai program nuklirnya dan isu-isu lain, namun tidak akan menerima 'intimidasi atau paksaan'.
"Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah menyepakati prinsip bahwa 'kita tidak boleh mengembangkan senjata nuklir'.
Upaya diplomasi sebelumnya gagal mengakhiri perang, yang bermula pada 28 Februari dengan serangan dari AS dan Israel. Sejak saat itu, perang berlangsung secara bergantian antara masa jeda dan serangan lanjutan dan telah menewaskan ribuan orang serta melemahkan kekuatan konvensional Iran dan merusak ekonominya yang memang sudah terpuruk.
Iran dan sekutunya telah membalas dengan memperluas konflik ke seluruh kawasan. Iran menyerang sekutu AS di kawasan Teluk menggunakan pesawat nirawak atau drone dan rudal, sementara sekutu Houthi mereka di Yaman menargetkan kepentingan Arab Saudi yang merupakan salah satu sekutu AS di Timur Tengah.