Saat ditanya apakah AS sedang mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, Trump mengatakan bahwa opsi itu tetap terbuka. Ketika berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih, Trump secara terbuka mengakui dirinya telah menolak usulan terbaru Iran.

"Mereka telah mengajukan usulan dan saya menolaknya," ucapnya.

Persyaratan yang diajukan Iran dalam usulan terbarunya, menurut laporan media terkemuka AS, New York Times (NYT), mencakup penghentian segala permusuhan di Timur Tengah selama tujuh hari, termasuk di Lebanon, di mana kelompok Hizbullah yang didukung Iran bertempur melawan Israel.

Usulan itu juga menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, yang nilainya diperkirakan mencapai USD 12 miliar (setara Rp 214,9 triliun) serta pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan diakhirinya blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pada hari ketujuh gencatan senjata berlangsung, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz.

Hingga Minggu (27/9), Iran masih bersikeras pada syarat-syarat tersebut untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga situasi di kawasan Teluk tetap menemui jalan buntu. Tawaran Iran itu dikritik oleh Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz.

Dia menyebut Iran mengajukan tuntutan yang berlebihan sebagai syarat untuk kembali ke meja perundingan. Waltz menyebut syarat-syarat Teheran terlalu 'sinis' dan tidak dapat diterima oleh Washington.

"Menurut saya, ini adalah upaya yang cukup sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka sendiri mengetahui itu tidak dapat diterima. Meminta pencabutan blokade, sanksi, baik sanksi internasional maupun akses terhadap aset bernilai miliaran dolar, hanya sebagai syarat untuk berunding," sebut Waltz saat berbicara kepada NBC News.