Kyiv menyatakan Washington gagal menyediakan data peringatan dini mengenai peluncuran rudal Rusia, membatasi sistem satelit SpaceX yang digunakan untuk mengarahkan drone Ukraina, serta menahan sistem pertahanan rudal yang dibeli atas nama Ukraina oleh negara-negara Eropa. Washington membantah perubahan kebijakan yang ingin secara sengaja menghambat pasukan Ukraina.
Menjelang pemilihan sela AS bulan November mendatang, Donald Trump kerap kali menyalahkan serangan Ukraina yang menyasar kilang-kilang minyak Rusia yang menyebabkan melonjaknya harga energi di AS. Hal ini yang menimbulkan masalah politik bagi presiden. Namun, para analis mengatakan bahwa pendorong utama kenaikan harga bahan bakar tetaplah perang AS-Iran.
Tudingan Trump muncul di tengah prospek suram Partai Republik dalam pemilihan sela bulan November, sebagian karena melonjaknya harga bahan bakar. Harga solar di pompa bensin AS meroket ke rekor $6,53/ galon (Rp 31.000/lt) pada akhir September, naik dari $3,75/ galon (Rp17.800/lt) sebelum perang, menurut American Automobile Association. Kenaikan harga energi ini memicu inflasi di seluruh perekonomian.
Menurut Julien Mathonniere, analis dari Energy Intelligence, serangan Ukraina menjelaskan sekitar sepertiga dari kekurangan solar global yang diperkirakan mencapai 1,7–1,8 juta barel per hari. Namun, menurut peneliti Oxford Institute for Energy Studies, James Henderson kepada AFP dampak serangan drone Ukraina terhadap harga produk minyak global sangat kecil.
Ekspor energi dari Teluk telah anjlok sejak serangan AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu yang memaksa Teheran untuk memblokir Selat Hormuz, jalur perairan vital bagi pengiriman minyak dan gas. Pada saat yang sama, biaya angkutan laut melonjak dan kapasitas penyulingan utama di Timur Tengah terganggu, yang menambah tekanan kenaikan pada harga minyak.
Hubungan antara Kyiv dan Washington semakin memburuk bulan ini setelah Trump mengumumkan kesepakatan kontroversial dengan Moskow untuk mencabut sanksi tertentu dan mengizinkan impor solar Rusia, yang bertujuan untuk meredam lonjakan harga. Presiden AS mengatakan pada Rabu bahwa ia yakin akhir perang Rusia-Ukraina mungkin lebih dekat dari sebelumnya, sementara Kremlin menyatakan bersedia memulai kembali pembicaraan trilateral dengan Kyiv dan Washington bulan depan.
Namun, untuk saat ini, serangan-serangan tersebut terus berlanjut. "Tidak banyak yang bisa dilakukan dalam jangka pendek untuk menurunkan harga solar," kata Jorge Leon, seorang analis di Rystad Energy.
Bahkan jika konflik Rusia berakhir atau gencatan senjata di bidang energi tercapai, dampaknya "tidak akan benar-benar memberikan pengaruh besar bagi pemilihan umum tengah masa jabatan AS," tambahnya.
Perbaikan infrastruktur yang rusak membutuhkan waktu, sementara konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah mendorong harga energi semakin tinggi.