Sedikitnya 488 orang ditangkap dan 43 personel keamanan luka-luka dalam aksi protes yang diwarnai kericuhan pada Selasa (6/10) waktu setempat.

Macron dijadwalkan menggelar rapat dengan jajaran pejabat tinggi Prancis, termasuk Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez dan Menteri Pendidikan Edouard Geffray, pada Selasa (6/10) malam. Rapat darurat itu dimaksudkan untuk menanggapi situasi keresahan tersebut.

Laporan wartawan AFP menyebut unjuk rasa di Paris berlangsung relatif damai, sebelum ketegangan memuncak di dekat titik akhir rute longmarch di wilayah timur ibu kota Prancis itu, ketika polisi menembakkan gas air mata dan beberapa demonstran melemparkan batu ke arah polisi antihuru-hara.

Pihak kepolisian menyatakan bahwa "300 individu yang agresif" berupaya melakukan konfrontasi dengan petugas kepolisian. Namun kelompok-kelompok HAM, serikat pekerja, dan para pelajar menuduh otoritas berwenang menggunakan kekuatan yang berlebihan.

Salah satu pelajar yang ikut demo, Yanis (16), mengatakan para siswa merasa diabaikan sampai unjuk rasa berubah menjadi kekerasan. "Hal itu membuat kami merasa seolah-olah segalanya diselesaikan melalui kekerasan," ujarnya.

"Generasi Z telah bangkit dan ingin didengar," ucap demonstran pelajar lainnya, Lilia (19), saat berbicara kepada AFP di tengah unjuk rasa di pusat kota Paris.