Pada Minggu (11/10), Trump mengumumkan gencatan senjata di sektor energi. Namun, kedua pihak belum mengonfirmasinya. Reuters melaporkan Rusia kembali menyerang sasaran energi Ukraina pada Senin (12/10), sementara juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menolak usulan Kyiv untuk gencatan senjata penuh selama 60 hari.
Trump bersikeras kedua negara telah menyepakati gencatan senjata. "Mereka setuju," katanya. Namun, ia mengakui perlu memeriksa laporan pelanggaran karena "telah terjadi pelanggaran di kedua belah pihak".
Sementara itu, utusan AS untuk NATO, Matthew Whitaker, menegaskan program pengadaan senjata bagi Ukraina melalui sekutu NATO tetap berjalan. Menanggapi laporan bahwa Washington mengancam menghentikan program PURL jika Kyiv tidak menghentikan serangan, Whitaker mengatakan, "Saya tidak mengetahui adanya perubahan pada program tersebut."
Ia mengakui pasokan peralatan, terutama sistem pertahanan udara, masih terbatas. Washington, katanya, bekerja sama dengan sekutu untuk mempercepat pengiriman bantuan tersebut ke Ukraina.
Kesepakatan diesel Trump dengan Putin menuai kritik dari anggota Kongres AS, baik Partai Republik maupun Demokrat. Menurut Associated Press (AP), enam senator dari kedua partai mendesak Trump membatalkan kesepakatan tersebut pada akhir pekan. Mereka menilai AS tidak seharusnya memberikan bantuan finansial kepada Putin.
William Taylor, mantan duta besar AS untuk Ukraina, mengatakan kesepakatan itu merugikan Ukraina sekaligus AS. "Kerugian bagi Ukraina itu nyata," katanya kepada AP.