"Hari ini adalah kemenangan bagi Amerika Serikat, kemenangan bagi Irak, dan kemenangan telak atas ISIS-yang telah dihancurkan sepenuhnya oleh Pemerintahan Trump pada masa jabatan pertamanya-bersama dengan pihak-pihak berbahaya dan buruk lainnya," tuturnya.

Berbeda dengan situasi di Afghanistan, di mana banyak peralatan militer dan aset lainnya tertinggal, serta 13 prajurit gugur dan banyak lainnya terluka parah, penarikan pasukan dan peralatan Koalisi yang tertib dari Pangkalan Udara Erbil ini menandai berakhirnya operasi yang sangat mahal dan bagaikan "neraka".

"Saya menetapkan misi yang jelas, memberikan sarana kepada para komandan untuk menyelesaikannya, dan menolak membiarkan kehadiran sementara berubah menjadi kehadiran permanen," ungkapnya. "Saya dihadapkan pada pilihan untuk tetap tinggal atau pergi, dan saya merasa yakin sepenuhnya bahwa sudah saatnya Amerika pulang! Perdana Menteri al-Zaidi adalah sosok yang luar biasa, dan diharapkan ia mampu menangani berbagai hal dengan sangat baik. Kita datang untuk memerangi kekhalifahan. Tidak ada lagi kekhalifahan. Kita akan pulang!" sambungnya.