NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Gedung Putih pada Kamis, sehari setelah kesepakatan gencatan perang dagang satu tahun mereka resmi diperpanjang.
Fokus perhatian publik kini tertuju pada sejauh mana kedua pemimpin dapat mencapai kesepakatan terkait tata kelola kecerdasan buatan (AI).
Para pejabat dari kedua negara menyatakan bahwa tujuan utama dari pertemuan tingkat tinggi itu adalah untuk menjaga stabilitas hubungan AS-China, meskipun sejumlah perselisihan mendasar masih belum terselesaikan, termasuk masalah mineral kritis, Taiwan, dan Iran.
Trump dan Xi—yang melakukan kunjungan pertamanya ke Washington dalam 11 tahun terakhir—diperkirakan akan menghabiskan banyak waktu untuk membahas isu-isu ekonomi.
Menjelang pertemuan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa kedua negara sepakat memperpanjang gencatan senjata dagang yang masih rapuh ini selama dua bulan hingga 10 Januari, dari yang semula dijadwalkan berakhir pada 10 November.
Langkah gencatan perang dagang untuk menekan tarif balasan yang sempat menembus angka 100 persen itu dinilai sangat krusial guna menjaga keberlangsungan upaya pemulihan hubungan yang tengah berjalan.
Trump dan Xi pertama kali sepakat menunda perang dagang saat bertemu di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu.
Kesepakatan tersebut mencakup penundaan penerapan kontrol ekspor baru oleh China terhadap mineral tanah jarang, yang merupakan bahan baku vital bagi produk teknologi tinggi.
Kunjungan kenegaraan Xi tersebut, yang berlangsung sekitar empat bulan setelah kunjungan Trump ke Beijing, sekaligus menegaskan keinginan bersama untuk melanjutkan dialog tingkat tinggi di tengah persaingan politik, ekonomi, dan teknologi yang kian sengit.