Angka kepuasan publik terhadap Trump diketahui merosot akibat dampak ekonomi dari perang melawan Iran, di mana gangguan besar pada jalur pelayaran di Selat Hormuz telah melonjakkan harga bahan bakar di AS dan berbagai belahan dunia.

Trump, yang terakhir kali menggelar pembicaraan tatap muka secara mendalam dengan Xi pada pertengahan Mei, terus mengupayakan bantuan China untuk menekan Iran seiring berlarutnya konflik tanpa tanda-tanda usai.

Namun, Tiongkok—mitra ekonomi paling penting bagi Iran—menunjukkan sedikit minat untuk mengambil tindakan yang dapat dipersepsikan memihak Amerika Serikat.

Selain konflik berusia hampir tujuh bulan yang telah mengganggu pasokan energi global serta meningkatkan risiko inflasi tersebut, Trump dan Xi kemungkinan akan membahas perang Rusia di Ukraina serta ambisi nuklir Korea Utara.

Meski begitu, para pejabat AS memberi isyarat bahwa isu-isu non-bilateral tersebut kemungkinan besar tidak akan menjadi fokus utama pembicaraan.

Seperti biasa, Xi diperkirakan akan mengangkat isu Taiwan, pulau demokratis yang diklaim China sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menampik kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengembalikannya ke bawah kendali Beijing.

Para sekutu dan mitra AS di Asia kini semakin cemas bahwa Trump mungkin akan mengurangi dukungan pertahanan jangka panjang Washington untuk Taiwan demi mendapatkan kesepakatan ekonomi dengan China.

Kekhawatiran mengenai komitmen keamanan kawasan tersebut kian memuncak setelah Trump, dalam sebuah wawancara saat kunjungannya ke Beijing, menggambarkan rencana penjualan senjata senilai sekitar 14 miliar dolar AS ke Taiwan hanya sebagai "kartu negosiasi" dengan China.

Penerjemah: Aditya Eko Sigit Wicaksono